Beberapa puluh tahun yang lalu, Singkawang menjadi kota persinggahan para penambang emas asal China sebelum mereka melanjutkan perjalanan ke Monterado. Dua kawasan yang berada di Kalimantan Barat (Kalbar) itu memang berdekatan, hanya berjarak kurang dari satu jam perjalanan dengan kendaraan bermotor.

Para penambang yang berbahasa China dengan logat Khek menyebut kota ini dengan nama San Keuw Jong, yang berarti kawasan dengan mata air mengalir dari gunung sampai laut. Kondisi geografis itu juga membuat kawasan yang berbatasan langsung dengan Laut Natuna ini diselimuti oleh lahan hijau yang subur walau beriklim tropis basah.

Karena merasa kalau bertani dan berdagang lebih menjanjikan, maka para penambang lalu memutuskan untuk berubah profesi dan menetap di Singkawang.

Awalnya, kota ini merupakan salah satu kecamatan di Kabupaten Sambas. Setelah Undang Undang No. 12/2001 diterbitkan pada Oktober 2011, kota ini baru resmi menjadi daerah otonom.

Walau tidak sepopuler Pontianak—ibukota Kalbar yang berada berjarak empat jam perjalanan, namun saat ini Singkawang sudah mulai berkembang menjadi kota yang sibuk.

Jumlah penduduk di kota ini sekitar 246 ribuan, dengan mayoritas penduduk merupakan orang keturunan Tionghoa, Dayak dan Melayu, yang beragama Buddha, Khonghucu, Islam, Katolik, Protestan, Tao dan Hindu.

Banyaknya penduduk keturunan Tionghoa yang memeluk Buddha dan Khonghucu membuat banyaknya bangunan vihara atau kelenteng yang dibangun di Singkawang. Kota ini bahkan mendapat julukan ‘Kota Seribu Kelenteng’ dan ‘Hong Kong-nya Indonesia’.

Berbagai tradisi tahunan khas Tionghoa pun rutin diselenggarakan di sini, seperti Imlek, Cap Go Meh dan Ceng Beng. Bahkan, salah satu pawai yang diselenggarakan setiap Cap Go Meh, Pawai Tatung, disebut sebagai yang terbesar di dunia. Pawai tersebut merupakan perpaduan dari budaya Tionghoa dan Dayak.

Pada pertengahan Januari ini, CNNIndonesia.com mendapat kesempatan untuk berkunjung ke Singkawang. Saat itu, suasana Imlek sudah mulai terasa, dengan banyaknya dekorasi berwarna merah yang digantung di setiap sudut kota.

Tidak sulit untuk mengunjungi kota dengan cuaca panas terik ini. Wisatawan yang memiliki waktu selama dua minggu bahkan bisa sekaligus mengunjungi Pontianak dan Sambas.

Perusahaan maskapai penerbangan besar banyak yang memiliki rute penerbangan ke Singkawang. Tarif tiketnya pun mulai dari Rp300 ribuan. Seluruhnya mendarat di Bandara Internasional Supadio di Pontianak.

Dari bandara, wisatawan bisa langsung menyewa taksi berjenis sedan dengan tarif sekitar Rp500 ribu tanpa tarif tambahan yang lain. Pastikan taksi memiliki kondisi yang baik, karena perjalanan dari Bandara Supadio menuju Singkawang berjarak sekitar empat jam perjalanan. Oleh karena itu, pilihlah penerbangan paling pagi agar tidak terlalu malam saat sampai di Singkawang.

Jangan khawatir, karena ada banyak terdapat stasiun pengisian bahan bakar, minimarket dan rumah makan di sepanjang perjalanan. Biasanya, supir taksi akan mengarahkan penumpang untuk makan siang di salah satu rumah makan, namun penumpang boleh menolaknya secara halus.

Tak banyak pilihan tempat menginap di Singkawang. Dari situs pemesanan akomodasi Agoda, tercatat hanya ada empat hotel yang ada di sana, dengan tarif mulai dari dari Rp120 ribuan sampai Rp700 ribuan.

CNNIndonesia.com memilih untuk menginap di Swiss-Bellin Singkawang, hotel berbintang tiga yang berada satu gedung dengan Singkawang Grand Mall di Jalan Alianyang.

Selain baru dan strategis, hotel ini juga memiliki pemandangan yang sangat indah. Dari kamar yang berada di lantai sembilan, pemandangan matahari yang terbit dan tenggelam di balik barisan bukit hijau dapat dilihat dengan mudah.

Singkawang memiliki luas sekitar 504 meter persegi, jadi wisatawan yang tak memiliki banyak waktu tetap bisa menjelajahnya dalam waktu singkat. Lalu lintas di kota ini terbilang lengang, tapi tidak banyak transportasi umum yang beroperasi. Jalan keluarnya bisa menyewa mobil yang disewakan dengan tarif mulai dari Rp300 ribuan.

Berikut ini ialah rangkuman perjalanan wisata satu malam di Singkawang yang berhasil dihimpun oleh CNNIndonesia.com pada Sabtu (14/1):

06.00 WIB – Sarapan di Barello

Swiss-Bellin Singkawang baru beroperasi dua tahun yang lalu. Saat terakhir dikunjungi, hotel ini masih terus berbenah. Namun, fasilitas kamar, restoran dan kolam renangnya sudah bisa dinikmati oleh tamu.

Satu-satunya restoran yang ada di hotel ini bernama Barello. Dengan kapasitas sekitar 500 orang, restoran ini memiliki dua area, dalam dan luar ruangan. Untuk sarapan pagi, banyak tamu yang memilih untuk menikmatinya di luar ruangan, yang menyatu dengan area kolam renang dengan konsep tak bertepi.

Walau menu sarapan pagi yang ditawarkan tidak terlalu istimewa, pemandangan matahari terbit di sela perbukitan yang menghijau menjadi nilai tambah restoran ini.

Tak hanya oleh tamu hotel, restoran Barello juga terlihat ramai dikunjungi oleh pengunjung lain yang ingin merasakan sensasi makan malam dengan pemandangan lampu kota Singkawang.

07.00 WIB – Jelajah Pulau

Setelah sarapan pagi, CNNIndonesia.com lalu memulai perjalanan ke Pantai Samudera di Bengkayang. Dengan mengendarai mobil, jarak dari hotel menuju ke pantai itu sekitar 30 menit. Sepanjang jalan, mata akan dihibur oleh pemandangan khas pedesaan, perkebunan jagung dan pemukiman penduduk yang sederhana.

Bagi yang menyetir kendaraannya sendiri, diharapkan waspada, karena sebagian besar penduduk menggunakan sepeda motor, mulai dari anak SMP sampai ibu rumah tangga. Silakan menyalip kendaraan yang ada di depan, namun perhatikan kendaraan yang berjalan dari arah sebaliknya.

Akses jalanan di Singkawang sudah sangat memadai. Dari penjelasan supir, diketahui kalau pembangunan jalan sudah dilakukan sejak masa pemerintahan Presiden Susilo Bambang Yudhoyono.

Kenyamanan tersebut terbukti saat mobil mulai memasuki jalan kecil menuju Pantai Samudera. Jalan kecil beraspal membelah hutan yang ditempati beberapa rumah penduduk.

Sampai di gerbang Pantai Samudera, petugas parkir menagih tiket masuk seharga Rp15 ribu perorang. Selebinya, tidak ada lagi biaya yang ditagih untuk seharian berwisata di sana.

Senasib dengan pantai-pantai yang ada di pelosok Indonesia, Pantai Samudera terlihat sepi. Hanya ada beberapa warung sederhana yang menjual kopi dan mie instan. Disarankan untuk membawa bekal sendiri sebelum merasa kecewa dengan menu dan harga ditawarkan.

Dari jauh, terlihat pekerja sedang membangun pembangkit listrik tenaga uap, dermaga dan komplek penginapan sederhana. Pemilik warung di sana berharap pembangunan dapat segera selesai, sehingga wisatawan semakin banyak berdatangan.

Pantai Samudera berpasir putih dengan ombak yang tenang, oleh karena itu banyak wisatawan yang datang untuk berenang.

CNNIndonesia.com tidak menghabiskan banyak waktu di sana, karena segera loncat masuk ke perahu nelayan untu mengunjungi beberapa pulau yang ada di sekitarnya, Pulau Randaian dan Pulau Lemukutan.

Tarif naik perahu nelayan sekitar Rp1 jutaan dengan kapasitas 10 orang. Hati sempat was-was, karena tahu perahu hanya terbuat dari kayu. Tapi tidak seperti menempuh perjalanan dari Bali menuju Kepulauan Gili, lautnya masih terbilang tenang, malah lebih mirip sungai.

Sekitar 20 menit meninggalkan Pantai Samudera, dasar laut yang menghijau mulai terlihat, menandakan kalau perairan di sini tidak terlalu menyeramkan untuk diselami.

Nelayan yang bertindak sebagai kapten kapal mengatakan kalau butuh waktu 1,5 jam untuk sampai ke Pulau Randayan. Jika tidak disesaki orang, perahu kayu terbilang nyaman. Tapi daripada tertidur, mata lebih ingin menyaksikan pemandangan pulau-pulau kecil dengan perbukitan hijau yang dilewati.

Hampir sampai menuju Pulau Randayan, terlihat beberapa pulau tak berpenghuni yang rasanya menarik untuk dikunjungi. Namun, kapten kapal mengatakan kalau akses merapat ke sana cukup sulit, karena terjalnya karang di tepiannya.

Kapal merapat di dermaga Pulau Randaian. Hamparan pasir putih dan barisan pohon kelapa menyambut CNNIndonesia.com. Satu-satunya penginapan yang ada di sana dioperasikan oleh Randayan Island Resort.

Sekali lagi jangan bayangkan Bali atau Gili, karena jika tidak melakukan pemesanan sebelumnya, menu yang disediakan karyawannya hanyalah mie instan. Hal tersebut bisa dimaklumi, karena pulau ini terpisah jauh dari Singkawang.

Selalu gunakan alas kaki sebelum menyicipi tepi pantainya. Karena walau berpasir putih, banyak pecahan karang yang cukup tajam. Aktivitas renang bisa dilakukan saat air pasang, selebihnya lebih baik menyelam.

Sama seperti makanan, lebih baik membawa sendiri perlengkapan menyelam. Tak perlu jauh-jauh sampai ke tengah lautan, dari pinggiran dermaga berbagai ikan kecil berwarna-warni sudah bisa diajak bermain.

Hampir dua jam menghabiskan waktu di Pulau Randayan, Team Safani Rent Car lalu melanjutkan perjalanan ke Pulau Lemukutan yang hanya berjalan sekitar 20 menit.

Kapal yang ditumpangi berpapasan dengan kapal-kapal nelayan lain yang terlihat ramai ditumpangi wisatawan. Banyak dari mereka yang mengunjungi kedua pulau ini selama musim liburan, namun wisatawan lokal terbilang jarang menginap.

Pulau Lemukutan sudah ada di depan mata. Suasana di sini terbilang lebih ramai, karena adanya kampung nelayan. Kapten kapal mengatakan kalau wisatawan luar negeri lebih memilih menginap di sini, karena pilihan tempat menginapnya lebih banyak, dengan tarif mulai Rp200 ribuan per malam.

 

www.safanirentcar.com

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *